Rabu, 14 Mei 2014

BAHASA INDONESIA BAGIAN 2

Artikel 1

Nama   :  Virna Dhestira Permana
NPM   :  27212607
Kelas   :  2EB24


Menulis Paragraf Narasi

Saat mendengarkan pembaca puisi, Anda tentu saja dapat menemukan suatu hal atau peristiwa yang diungkapkan dengan kata-kata indah. Untuk menuliskan puisi, memang bukanlah hal yang mudah. Namun, jika terus berlatih tentu Anda dapat melakukannya.
Saat menulis puisi lah, sebenarnya relatif sama dengan menulis sebuah paragraph atau karangan. Namun, hal yang dapat membedakannya yakni puisi lebih cenderung menggunakan bahasa kias dan penuh makna, sedangkan bahasa teks itu cenderung lugas dan tidak perlu menelaahnya secara berulang untuk menentukan maksudnya.
Berikut adalah salah satu contoh puisi serta maknanya, yang diambil dari puisi “Selamat Tinggal” karya Chairil Anwar.
Aku berkaca
Ini muka penuh luka
Siapa punya?
Kudengar seru menderu?
-dalam hatiku-
Saat aku sedang berkaca dicermin, tampak ada sesuatu yang tergugat dalam raut mukaku. Aku pun bertanya-tanya seakan muka ini telah mencerminkan kekurangan dan kejelekan diri. Apakah ini yang tercermin dalam setiap muka manusia? Tidak lama setelah itu, aku mulai menyadari bahwa ini benar-benar diriku yang penuh kekurangan.

Narasi merupakan tulisan yang mengisahkan suatu peristiwa atau kejadian yang disusun menurut urutan waktu atau urutan ruang. Tulisan narasi dapat dibedakan sebagai berikut  :
1.      Nonfiksi, yaitu karangan yang mengisahkan hal-hal yang nyata, berdasarkan pengalaman atau pengamatan. Contoh: sejarah, biografi (kisah seorang tokoh), atau autobiografi (kisah pengalaman pengarangnya sendiri).
2.      Fiksi ialah karangan yang mengisahkan hal-hal yang bersifat khayal atau imajinasi. Contoh: cerpen, novel, dongeng, dan hikayat.
Tulisan narasi pun ada yang bersifat narasi sugestif dan narasi ekspositoris.
1.      Narasi sugestif atau biasa disebut narasi runtun peristiwa, berupa narasi yang mengisahkan rangkaian peristiwa yang berlangsung dalam kesatuan waktu sehingga dapat menggugah daya khayal dan memunculkan dorongan perasaan pada pembacanya.
2.      Narasi ekspositoris atau biasa disebut narasi kejadian merupakan narasi yang mengisahkan berlangsungnya suatu peristiwa secara informative, sehingga pembaca dapat mengetahui peristiwa tersebut secara tepat.
Berdasarkan penjelasan tersebut, tulisan narasi mempunyai karateristik (ciri-ciri) dan struktur penulisan narasi. Berikut karateristiknya  :
a.       Adanya penceritaan atau suatu pengisahan suatu peristiwa yang dijalin dan suatu urutan waktu.
b.      Adanya bagian perbuatan atau tindakan.
c.       Wacana narasi berusaha menjawab pertanyaan “Apa yang telah terjadi?”.
d.      Menginformasikan suatu hal sehingga pembaca memperoleh pengetahuan yang luas.
      Adapun struktur penulisan narasi dapat dilihat dari komponen-komponen yang membentuknya, yakni perbuatan, penokohan, latar, dan sudut pandang. Namun, dapat pula dianalisis berdasarkan alur (pilot) narasi.
      Setiap narasi memiliki alur yang didasarkan pada kesinambungan sebab-akibat. Ada bagian yang mengawali narasi itu, ada bagian yang merupakan perkembangan lebih lanjut, dan ada bagian yang mengakhiri narasi itu.
      Selanjutnya, dalam teks tersebut terdapat pula kata-kata yang mungkin belum Anda pahami. Misalnya, e-mail yang berarti surat elektronik. Selain itu, Anda pun dapat mengoreksi atau menyuting teks tersebut dari segi penggunaan bahasa EYD, dan tanda bacanya. Akan tetapi, koreksilah hal yang memang salah, jangan mengoreksi yang sudah benar.
      Misalnya,
“Dan itu, saya kira, juga merupakan salah satu cirri dari karya-karya Hamid Jabbar.”
      Perbaikannya  :
“Hal itu merupakan salah satu ciri dari karya Hamid Jabbar.”


Analisisnya :
1.      Imbuhan sederhana, yaitu hanya terdiri dari satu awalan atau akhiran.
·         Dicermin, dengan kata dasarnya cermin. Menggunakan imbuhan di-.
·         Berlangsung, dengan kata dasar langsung. Menggunakan imbuhan ber-.
·         Koreksilah, dengan kata dasar koreksi. Menggunakan imbuhan –lah.
2.      Imbuhan gabungan, yaitu imbuhan yang lebih dari satu awalan atau akhiran
·         Kesinambungan, dengan kata dasarnya sinambung. Menggunakan imbuhan ke – an.
·         Memiliki, dengan kata dasarnya milik. Menggunakan imbuhan me – i.
·         Perkembangan, dengan kata dasarnya kembang. Menggunakan imbuhan per – an.
3.      Kias/kiasan adalah kata-kata yang berbunga-bunga, bukan dalam arti kata yang sebenarnya; kata kiasan dipakai untuk memberi rasa keindahan dan penekanan pada pentingnya hal yang disampaikan.
4.      Lugas adalah makna kata atau kelompok kata yang sebenarnya.
5.      Huruf kapital digunakan untuk menuliskan huruf pertama kata pada awal kalimat.
6.      Tanda baca :
a.       Tanda titik (.)              :  di setiap akhir kalimat
b.      Tanda koma (,)            : memisahkan kalimat majemuk setara yang menggunakan kata
                                      penghubung, memisah anak kalimat yang mendahului induk
                                      kalimat dalam kalimat majemuk bertingkat.
c.       Tanda petik dua (“...”) : mengapit petikan langsung.
d.      Tanda kurung ( )         : mengapit keterangan atau penjelasan
                                                     



Artikel 2

1.      Paragraf narasi (naratif) adalah karangan yang bertujuan menceritakan atau mengisahkan peristiwa dalam satu urutan waktu. Narasi harus mengungkapkan kronologis peristiwa dari awal sampai akhir yang terdiri dari beberapa unsur pokok, yakni kejadian, tokoh, dan konflik. Narasi dapat bersifat faktual (biografi, autobiografi dan kisah perjalanan), dan juga bersifat rekaan/fiksi (roman, novel, cerpen, cerbung, dan komik).
·         Contoh paragraf narasi:
“Suasana benar-benar kacau bakat. Beberapa orang melompat ke tepi dan menebur ke kali. Beberapa perahu yang lepas tampak melaju menuju hulu. Yang lainnya menyusul, sementara menanti terdengar riuh sekali. Begitu saja keadaan terjadi. Arus deras dari kampar-kampar menyerbu dari hulu membantu sampan-sampan ke hilir. Lengking suara orang dan tabuhan gong menandakan tibanya petaka. Asap yang terkepul hitam legam menunjukkan bahwa sedang terjadi kebakaran (Rotan, karya Korrie Layun Rampan).”

2.      Paragraf deduktif yaitu sebuah paragraf yang berpola dari umum ke khusus, artinya paragraf yang didahului dengan kalimat umum kemudian dikembangkan dengan beberapa kalimat penjelas. Contoh dari paragraf deduktif bisa kita temukan di berbagai penyedia artikel, seperti internet, majalah, dan koran.
·         Contoh Paragraf Deduktif
Negara adalah institusi mapan, tetapi tetap dinamis sehingga mampu mengantisipasi segala perubahan yang terjadi. Negara mewadahi seluruh kepentingan masyarakat bangsa. Ia hanya menyediakan kerangka umum yang bersifat abstrak, sehingga terbuka untuk ditafsirkan. Sementara pemerintah adalah pranata kontemporer, sebagai penyelenggara negara dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh konstitusi negara.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar